Tentang Indonesia
Rintihan-Rintihan Satwa Nusantara
“Bangun
woi!!”
Aku meneriaki Beni yang masih lelap dengan mimpinya.Maklum,malam tadi si gembrot ini sibuk menuliskan hasil penelitian kemarin siang.
Aku meneriaki Beni yang masih lelap dengan mimpinya.Maklum,malam tadi si gembrot ini sibuk menuliskan hasil penelitian kemarin siang.
“EEuhhhh”
“Bangun badak,ini hari terakhir penelitian kita”
“5 Menit lagi,nyawaku masih tersangkut di atap sana”
“Dasar,cepat bangun!!!,mandi dan siapkan semua peralatan untuk penelitian kita hari ini,jangan
sampai kita kehilangan orangutan itu lagi”
“Euuhhh, Berisikkk Cungkring”
Kutimpuk wajahnya dengan sapu lidi yang tergeletak di sebelahnya.Enak saja dia memanggilku Cungkiring.Memang sihhh,Badanku kurus tak berdaging tapi kalau kau mau adu engkol denganku,aku berani taruhan.
Hari ini
adalah hari terakhir penelitianku dengan si Beni,kami berdua satu jurusan di
salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah.Jurusan Zoologi merupakan pilihan
terakhirku yang aku kadang menyesal dan
bersyukur karenanya.Menyesal karena tak tau setelah lulus akan menjadi apa,dan
bersyukur karena diterima di Universitas negeri yang cukup bergengsi. Sudahlah
,jalani saja.
Sementara
ini kami tinggal di gubuk kecil milik salah satu warga suku Dayak
Kalimantan,Semua ini kami korbankan demi penelitian Orang utan yang merupakan
satwa endemik pulau Kalimantan.Dengan bekal uang yang kami dapatkan dari menulis
proposal,aku dan Beni menikmatinya,walau serangan nyamuk dimalam hari hampir
membuat kami menyerah.
Seminggu
terakhir asap tebal pekat menyelimuti tempat penelitian kami.Kebakaran hutan
menjadi penyebabnya.Akibatnya,Jarak pandang sangat terbatas dan paru-paru
terasa sesak.
“Bagaimana,Semua sudah siap??”Kataku pada Beni sibuk dengan tali sepatunya.
“86 Kapten”
“Pisang,Kau sudah memasukan pisang yang kita beli di pasar apung kemarin??”Tanyaku menyergah
“Sudah,cungkring tidak sekalian kita bawa blender,es batu dan susu??,sepertinya nikmat membuat jus pisang di tengah hutan”Tanya Beni meledek
Aku menghela nafas,mencoba serius.Sebenarnya hati humorku tertawa kecil dan ingin menanggapi,tapi mengingat hari ini adalah finalnya aku akan mengurangi humorku
“Terserah kau Badak, ayo berangkat"
Kami berdua menyusuri jalan setapak menuju Hutan Kalimantan yang begitu lebatnya.Parang panjang yang dipinjami warga selalu ditangan untuk berjaga-jaga.
Kanan kiri
kami hanya pepohonan dan tanaman liar yang tumbuh tinggi dengan
eloknya.Sayangnya pemandangan dan udara sejuk yang seharusnya diapat kunikmati
bersama Beni ,telah sirna ditelan Tebalnya kabut asap yang menyelimuti.
30 menit
kami berjalan,kami sudah berada di jembatan sungai yang besar.tubuh beni sudah
terlihat lemas,walaupun wajahnya tidak terlihat lelah karena tertutup
masker,tetapi dari sorot matanya aku tau bahwa dia sangat lelah.
“Heii,Berhentilah
sejenak,kakiku terasa mau patah”Seru Beni dengan muka masamnya,kulihat
wajahnya mulai pucat dan sekujur tubuhnya di penuhi keringat.Wajar saja ,dengan
tubuh setambun itu dia berjalan naik turun hanya membawa bekal
seadanya.Ditambah lagi pernafasan yang terganggu karena asap.
“Beberapa
langkah lagi kita sampai,Ayolahhhh”
“Kakiku Benar-Benar lemas Cungkring”
“Sedikit lagi sampai,langkahkan kakimu badak kuat”Celetuku tertawa untuk menyemangati Beni,walau tawaku segera tersedak karena kemasukan asap
“Pokoknya aku tidak mau tau,setelah semua ini selesai,kau traktir aku makan Makan besar!!”gerutu beni dengan mebngkukan kepalanya,kelelahan.
“Baiklah,kalau begitu cepatt”
Sesekali
tak apalah menggembirakan perutnya,lagi pula hampir semua laporan penelitian
dia yang mengerjakannya.
Lima menit
berjalan,terdengar lenguhan lemah tidak jauh dari kami,tidak salah lagi,itu
suara orangutan,tetapi suara kali ini berbeda.seperti menahan rasa sakit yang
amat dalam.
“Rud,Apa kau mendengarnya?”Beni berkata padaku sambil mendengarkan,jarang-jarang dia memanggil dengan nama asliku,itu berarti dia sedang serius.
“Ya,tidak jauh dari ”
“Cepat, pangkaslah semak belukar itu.Asap ini semakin pekat”
“Baiklah”
Ku sibaklah belukar itu dengan parang yang kubawa,dengan cepat tumbuhan liar yang menghalangi dapat kami atasi.Aku terjerambap ,kaget bukan kepalang.Orangutan itu,Siapa yang melakukanya????!.Tega sekali menjebaknya dengan perangkap Babi.Kakinya patah dan darahnya bercucuran dimana-mana.Hanya kedua tanganya yang masih utuh.Matanya begitu sayu menatapku.Menahan sakit yang amat sangat.
Otaku berputar cepat untuk mencari cara melepaskannya,tapi apa daya kakinya tersangkut dan jepitan dari jebakan itu sangat sulit untuk dibuka.Saat aku mencoba mengakatnya dengan sekuat tenaga,aku tersadar bahawa orangutan ini berjenis kelamin perempuan,dan sedang menyusui terlihat dari puting susunya yang tidak senormal biasanya.
“Woi”aku memanggil Beni,kulihat dia termenung dan memegang kepalanya.
“Kacau-kacau”Ucapnya seperti ketakutan
“Kenapa kau?”
“Cepatlah pulang,aku sudah tidak tahan dengan asap sialan ini”Jawab Beni tidak biasanya dia mempermasalahkan asap yang sudah ada sejak awal penelitian ini atau dia takut dan merasa ingin muntah melihat darah segar yang keluar dari tubuh si Orangutan,entahlaahh.Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk memikirkannya.
“Tenanglah!!jangan
cengeng ,sebentar lagi kita akan pergi setelah menemukan anak orang utan ini?”
“Anak??”Tanya Beni penasaran
“Sudahlah,jangan banyak tanya,cari disekitar belukar tempat ini!!dia pasti ketakutan dan bersembunyi”Perintahku pada Beni
Sekarang bukan saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya, mungkin nanti setelah semua ini selesai.
Dengan gesit Beni langsung menyusuri semak-semak di kanan-kiri kami.Aku tidak tau apa yang sedang dipikirkan Beni sekarang,semoga saja dia tidak tiba-tiba meninggalkanku sendiri di tengah hutan begini.
"Aku menemukannya, aku menemukannya" Beni berteriak kesenangan seperti anak kecil mendapat mainan baru.
Aku yang sedang berusaha sekuat tenaga melepaskan,sontak kaget dan langsung menghampiri Beni. Kulihat bayi itu masih utuh sempurna, walau badanya sangat kurus dan nafasnya yang tersengal-sengal terlalu banyak menghirup asap. Perasaanku dibuat kacau olehnya, terlepas diriku yang memang yatim piatu sejak dilahirkan, tetapi kasus ini beda, ibunya dibunuh dengan jebakan,oleh
manusia-manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.
"Letakan bayi ini dibawah pohon gaharu itu, kita akan mengangkat jebakan sialan itu bersama"
"Dadaku sangat sesak, aku pulang saja"
"Hehhh, "
"Kecuali kau mentraktir ku makan besar dua kali"cetus Beni.Sempat-sempatnya disaat seperti ini dia memikirkan makanan, apakah dia tidak melihat ada orang utan yang harus ditolong?ditengah hutan yang asapnya pekat hampir tidak bisa melihat. Hebat sekali dia mengambil kesempatan.
Belum sempat menjawab, terlihat api menyambar pohon akasia di depanku, merambat cepat ke pohon-pohon lainnya, hawa panas dengan cepat terasa disekujur tubuh. Ya Tuhan belum,sayu masalah belum selesai,muncul masalah baru yang lebih besar.
“Cepat,kita harus segera keluar dari hitan ini,kecuali jika kau mau menjadi manusia api bersama pohon-pohon itu”Beni panik
“Kita harus menolong induk orang utan itu”Aku menyuruhnya dengan perasaanku yang juga sama paniknya
“Rud,sadarlah,tidak ada waktu ,cepat kita harus keluar dari hutan ini”
Aku
memandangi Induk orang utan,kutatap sorot matanya yang lemah itu seolah
berkata”Tolonglah selamatkan buah hatiku,hanya dengan itu kematianku menjadi
tenang,pergilah!!,cepat pergilah dari sini!!”
Segera aku sadar dari lamunan,membopong membawa bayi orang utan itu dengan kedua tanganku.Berlari sekencang yang aku bisa,Beni sudah berlari lebih dulu,sialan dia meninggalkanku.
Sesekali
menengok kebelakang kulihat api merembet dengan sangat cepat,melalap semua
pohon yang ada dibelakangku.Aku tak memperdulikanya,terus berlari dan berlari
sekencang yang aku bisa.
10 menit berlari sampailah aku di jembatan sungai besar,aku merasa lebih tenang.Setidaknya api tidak dapat melewati batas sungai ini.karena pasti padam jika terkena air.Saat sudah sampai didepan gubuk,kulihat Beni sudah menungguku didepan pintu.
“Syukurlah Rud,engkau selamat”
Aku tak
memperdulikannya,langsung masuk kedalam gubuk.Terlepas dari aku kesal dengannya
karena meninggalkanku juga karena aku lebih mementingkan keselamatan anak orang
utan ini.
“Cepat cari gardus bekas mie instan yang kau bawa kemarin,juga kain bekas untuk menutupi menutupi hidungnya”Perintahku pada Beni.
Beni langsung berlari kebagian dapur gubuk kami,mengambil gardus dan membawakannya padaku.Kuletakan bayi irang utan ini kedalam gardus,dan memberi makan dengan pisang yang tadi kami bawa.Dengan lahap bayi orang utan itu memakannya.Syukurlahhh setidaknya ada harapan hidup dengan orang utan ini.
Seminggu
kemudian udara sudah terlihat bersih asap pun mulai berkurang.Kesehatan bayi
mungil orangutan itu membaik,nafsu makannya pun bertambah.
Telah
seminggu aku dan Beni merawat anak orang utan itu,keadannya membaik dan
tubuhnya pun tak sekurus sebelumnya,aku pun menyerahkan bayi orang utan
itu ke tempat konservasi terdekat.
Sementara
itu laporan penelitianku kacau,deadline pengumpulan sudah melewati batas.Peduli
amat dengan setumpukan kertas berisi omong kosong belaka.Aku lebih peduli
dengan keselamatan anak orang utan itu yang ibunya mati terbakar api,karena aku
tau rasanya tak memiliki Ayah-Ibu.
“Ayo
Rud,aku sudah siap”
“ayo”
“Gas,Tulle pastti sudah menggu kita di sungai dengan perahu getheknya”
Tulle warga Dayak asli,seumuran dengan kami,wataknya menyenangkan dan tetap akrab dengan kamu walaupun dia dia pewaris kepala suku.
Dalam
perjalanan pulang aku melihat bekas kebakaran yang terjadi seminggu
lalu,benar-benar membuatku mengulang lagi cerita itu.Hatiku begitu tergerus
perasaan iba kepada nasib para hewan yang berada di tengah kebakaran hutan.
Aku melamun panjang dan berfikiran,Kisah yang kualami beberapa minggu lalu mungkin hanya bagian kecil dari kisah-kisah menyedihkan dari penderitaan satwa yang ada di Negeri kita tercinta..Berapa banyak ikan hiu menangis tidak lagi menjadi raja lautan karena terpotong sirip dan ekornya?,Berapa banyak harimau yang kau bunuh untuk diambil kulitnya?dan berapa banyak orang utan menjadi bodoh dan tak bisa bertahan hidup karena telah terbunuh induknya?.Malam akan sangat bising akan suara-suara penderitaan jika manusia tahu bahasa mereka.
Tamat
Titimangsa:
Surakarta, 1 Desember 2019
Lanjut li, can't wait
BalasHapus